Rabu, 28 Maret 2012

Identifikasi Tugas dan Masalah Perkembangan Anak Usia SMP


Identifikasi Tugas dan Masalah Perkembangan
Anak Usia SMP

A.    Tugas Perkembangan Anak Usia SMP
1.      Memiliki sikap dan perilaku beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan disertai rasa taat, akan disiplin mengamalkan segala ajaran-Nya, sehingganya hidupnya akan teratur. Keteraturan hidup tersebut akan menjamin keamanan, ketenteraman, dan kedamaian di dalam masyarakat. Sebagai remaja tentunya dapat memberikan sumbangan positif kepada masyarakat berupa keamanan, ketenteraman, dan kedamaian.
Kadang kala, anak usia SMP yang masih tergolong sebagai remaja awal masih terlalu labil dan mudah terpengaruh terhadap hal-hal yang negatif yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, remaja perlu berpegang teguh terhadap agama yang dianut-Nya dan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang ada dalam agamanya tersebut dengan sebaik-baiknya.

2.      Memperoleh perangkat nilai sebagai pedoman berperilaku
Tujuan dari tugas perkembangan ini adalah :
a.       Membentuk seperangkat nilai pada anak yang dapat direalisasikan.
b.      Mengembangkan kesadaran untuk merealisasikan nilai-nilai.
c.       Mengembangkan kesadaran akan hubungannya dengan sesama manusia juga alam sebagai lingkungan tempat tinggalnya.
d.      Memahami gambaran hidup dan nilai-nilai yang dimilikinya sehingga dapat hidup selaras dengan orang lain.
Dalam dasar psikologis remaja memiliki minat atau perhatian terhadap masalah filosofis dan keagamaan. Nilai-nilai dasar terbentuk melalui pengalaman remaja di lingkungan keluarga dan di lingkungan kebudayaan dimana mereka tinggal. Pembentukan nilai sendiri pada diri anak sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang mempunyai hubungan yang dekat dengan anak tersebut. Biasanya orang yang sangat berpengaruh untuk menanamkan nilai pada anak adalah seorang ibu atau orang yang berperan sebagai ibu.
Pada masyarakat biasanya mengembangkan suatu pandangan tentang hakikat dunia fisik manusia yang konsisten dengan nilai-nilai yang dominan. Sehingga anak dihadapkan pada tugas untuk mengembangkan dan menemukan seperangkat nilai yang selaras dengan nilai-nilai dan etika yang berlaku dalam masyarakat. Agar anak tersebut dapat hidup selaras dengan masyarakat dimana mereka tinggal.

3.      Mencapai kemandirian emosional
Kemandirian emosional sangatlah penting bagi dikembangkan pada masa remaja sebelum beranjak dewasa. Jika sudah bisa mandiri secara emosional maka ia akan mampu mengelola berbagai rasa emosinya, melepaskan ketergantungan dan keterikatan secara emosional dengan orang tua dan kerabat dekat lainnya.
Kemandirian emosional diperlukan remaja ketika menghadapi suatu masalah, dimana dirinya dituntut untuk mencari upaya pemecahan masalahnya sendiri, tanpa bergantung pada orang lain, terutama orang tua. Selain itu, juga berguna agar anak tidak cenderung melarikan diri ketika menghadapi masalah yang dianggap berat.

4.      Mengembangkan keterampilan intelektual
Intelektual merupakan suatu kecerdasan yang dimiliki seorang individu yang dapat dikembangkan melalui proses belajar. Pada tugas perkembangan ini anak usia SMP diharapkan mampu meningkatkan kecerdasan yang dimilikinya tersebut melalui belajar, baik melalui buku, pengalaman, lingkungan sekitarnya dan melalui media-media yang dapat menunjang proses belajar tersebut.
Dengan mengembangkan ketrampilan intelektual remaja dapat berfikir secara kritis. Berfikir kritis adalah kunci utama keberhasilan dalam menyelesaikan masalah. Pengetahuan yang didapatkan melalui proses berfikir kritis mempunyai tingkat pemahaman yang lebih tinggi.

5.      Berperilaku sosial yang bertanggung jawab
Anak usia SMP sudah mulai membaur dengan masyarakat dimana ia tinggal. Untuk itu, mereka dituntut untuk mempunyai perilaku sosial yang bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab artinya remaja diharapkan sudah mampu untuk ikut aktif dalam kegiatan kemasyarakatan (misalnya, mengikuti karang taruna), menunjukan perhatian pada masalah sosial yang terjadi, dan dapat berlaku sesuai dengan norma yang ada dan mampu beradaptasi dengan lingkungan.

6.      Mencapai peran sosial sebagai pria/wanita

Manusia diciptakan dalam dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Setiap jenis kelamin memiliki peran/tugasnya masing-masing. Ketika usia mencapai jenjang SMP semua anak harus sudah memahami perannya dalam sosial sesuai dengan jenis kelaminnya tersebut. Dalam perannya di dalam keluarga anak laki-laki dan perempuan pasti berbeda. Pada anak laki-laki peran dalam keluarga sudah menuju pada menjaga keamanan keluarga tersebut, sedangkan untuk anak perempuan lebih pada keadaan rumah seperti kebersihan rumah.
Dalam masyarakat pun peran anak laki-laki dan perempuan berbeda. Contohnya, saat diadakan kerja bakti, anak laki-laki harus sudah dapat membantu para kaum pria dalam kerja bakti tersebut, walaupun belum pada pekerjaan yang berat. Sedangkan untuk anak perempuan membantu para ibu untuk menyiapkan konsumsi bagi para pria. Selain itu, dalam bermain anak laki-laki maupun perempuan sudah akan merasa malu apabila selalu bermain dengan lawan jenisnya. Jadi mereka akan lebih memilih bermain dengan sesama pria maupun wanita (sesama jenis kelaminnya).
7.      Menerima keadaan diri dan menggunakannya secara efektif
Walaupun kedengarannya sederhana dan mudah diucapkan, menerima keadaan fisik diri sendiri sering kali menjadi masalah yang cukup besar bagi remaja. Banyak di antara remaja yang sulit menerima kenyataan bahwa dirinya berkulit gelap atau tidak setinggi dan selangsing teman sebaya. Perasaan tidak puas ini kemudian membuat remaja selalu dilanda perasaan minder. Perasaan ini akan menutupi kenyataan bahwa sebenarnya ada potensi lain yang ada dalam diri remaja tersebut. Menggunakan tubuh secara efektif juga berarti harus bisa merawat dan menjaganya sebaik mungkin.

8.      Mencapai kemandirian perilaku ekonomis
Berkaitan dengan kemandirian ekonomi pada umumnya tingkat kemandirian ekonomi dengan melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka sebagai remaja. Di daerah sentra industri banyak remaja yang memilih pekerjaan untuk menghasilkan uang daripada melanjutkan sekolah. Di kota besar remaja mencari uang dengan bekerja di bidang bisnis pertunjukan, sebagai model, penyanyi, bintang sinetron, maupun bekerja paruh waktu di bidang pemasaran atau sebagai pramuniaga. Penghasilan yang diperoleh remaja itu banyak dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang cenderung konsumtif atau untuk mencari bahan kebutuhan yang sifatnya sekunder, seperti alat meke up dan pernak-pernik lainnya.
Oleh karena itu, remaja dituntut untuk memiliki sifat dasar untuk mencapai kemandirian ekonomi dalam bentuk upaya untuk dapat memenuhi kebutuhannya sendiri serta mengatur pengeluaran ekonomi secara mandiri.
Prinsip-prinsip pengelolaan ekonomi yang perlu dimiliki oleh remaja, antara lain:
a.      Bersikap hemat dalam membelanjakan uangnya.
b.      Gemar menabung.
c.      Tidak suka pamer.
d.     Berpenampilan wajar serta cenderung sederhana.
e.      Tidak berlebih-lebihan dalam memakai fasilitas materi dari orang tua.
f.       Suka bekerja keras.
g.      Mampu mengendalikan diri utuk tidak konsumtif.

9.      Memiliki wawasan persiapan karir
Pekerjaan merupakan salah satu proses perkembangan kehidupan manusia. Bicara mengenai pekerjaan ternyata tidak hanya sekedar pekerjaan saja tetapi banyak hal dibalik itu. Dengan bekerja seseorang merasa diakui, memiliki status, atau media bagi aktualisasi diri. Pada suatu fase, saat memasuki tahap dewasa sudah dihadapkan pada tuntutan untuk keputusan karir berupa bidang pekerjaan yang diinginkan sebagai sebuah sumber penghidupan.
Oleh sebab itu, mempersiapkan diri untuk menghadapi keputusan karir menjadi hal yang penting, terutama bagi usia SMP dimana akan dihadapkan dua pilihan untuk sekolah lanjutan, yaitu SMA dan SMK.

10.      Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
Salah satu pola hubungan sosial remaja diwujudkan dengan membentuk suatu kelompok. Remaja dalam kehidupan sosial sangat tertarik pada kelompok sebayanya sehingga tidak jarang orang tua dinomorduakan, sedangkan kelompoknya dinomorsatukan. Contohnya, apabila seorang remaja dihadapkan pada pilihan untuk mengikuti acara keluarga dan berkumpul dengan teman-teman, maka dia akan lebih memilih untuk pergi dengan teman-teman. Pola hubungan sosial remaja lain adalah dimulainya rasa tertarik pada lawan jenisnya dan mulai mengenal istilah pacaran. Jika dalam hal ini orang tua kurang mengerti dan melarangnya maka akan menimbulkan masalah sehingga remaja cenderung akan bersikap tertutup pada orang tua mereka. Anak perempuan secara biologis dan karakter lebih cepat matang daripada anak laki-laki.


B.     Masalah Perkembangan Anak Usia SMP
1.      Pribadi
Masalah pribadi anak usia SMP antara lain :
a.      Emosi masih labil
Contohnya :
1)      Sering marah-marah jika permintaannya tidak dituruti.
2)      Merasa iri jika temannya memiliki sesuatu yang lebih daripada dirinya kemudian mengungkapkannya dengan jalan menghindari temannya tersebut.
b.      Belum bisa menerapkan pola hidup sehat
Contohnya :
1)      Makan tidak teratur dan sering terlambat.
2)      Jarang olahraga.
3)      Tidur terlalu malam.
4)      Belajar sambil tiduran.
5)      Kurang bisa menjaga kebersihan diri dan lingkungannya.
c.      Rendah diri (minder)
Memasuki fase remaja awal, anak usia SMP biasanya akan mengalami perubahan fisik, misal tumbuh jerawat. Mereka kurang bisa menerima perubahan tersebut sehingga merasa rendah diri.
d.     Pesimis (mudah menyerah)
Ketika menghadapi kesulitan atau suatu masalah remaja seringkali merasa tidak mampu dan mudah menyerah, tanpa mau memikirkan kemungkinan pemecahan masalah yang sebenarnya dapat mereka temukan.
e.      Belum bisa memahami diri sendiri
Anak usia SMP masih sering terbawa arus, termasuk dalam menentukan kegiatan ekstrakulkuler di sekolah, misal temannya ikut  basket dia juga ikut basket padahal dia tidak mempunyai potensi di bidang tersebut.

f.       Kurang bisa memanfaatkan waktu luang
Ketika mempunyai waktu luang anak usia SMP kurang bisa memanfaatkannya secara efektif. Misalnya, ketika ada jam kosong tidak dipergunakan untuk ke perpustakaan tetapi malah pergi ke kantin,  ketika  di rumah mempunyai waktu luang digunakan untuk bermain, nonton televisi. Mereka belajar hanya ketika ada PR dan akan ulangannya saja.
Bila dikaitkan dengan tugas perkembangan, maka masalah-masalah di atas berkaitan dengan tugas perkembangan nomor 3 (Mencapai kemandirian emosional) dan nomor 7 (Menerima keadaan diri dan menggunakannya secara efektif).

2.      Sosial
Salah satu masalah sosial anak usia SMP yang paling sering ditemui adalah kenakalan remaja. Kenakalan remaja (juvenile delinquency) adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau transisi masa anak-anak dan dewasa. Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Faktor-faktor penyebab kenakalan remaja :
a.      Reaksi frustasi diri
b.      Gangguan berpikir dan intelegensia pada diri remaja
c.      Kurangnya kasih sayang orang tua / keluarga
d.     Dampak negatif dari perkembangan teknologi modern
e.      Dasar-dasar agama yang kurang
f.       Tidak adanya media penyalur bakat/hobi
g.      Masalah yang dipendam
h.      Keluarga broken home
i.        Pengaruh kawan sepermainan
Contoh-contoh kenakalan remaja :
a.       Kebut-kebutan di jalanan
b.      Penyalahgunaan narkotika
c.       Perilaku seksual pranikah
d.      Perkelahian antar pelajar
Bila dikaitkan dengan tugas perkembangan, maka masalah-masalah di atas berkaitan dengan tugas perkembangan nomor 2 (Memperoleh perangkat nilai sebagai pedoman berperilaku), nomor 5 (Berperilaku sosial yang bertanggung jawab), nomor 6 (Mencapai peran sosial sebagai pria/wanita), dan nomor 10 (Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita).

3.      Belajar
Contohnya :
a.      Keterlambatan akademik, yaitu keadaan murid yang diperkirakan memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkan secara optimal.
b.      Kecepatan dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memiliki bakat akademik yang cukup tinggi atau memilki IQ 130 atau lebih, tetapi masih memerlukan tugas-tugas khusus untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan belajarnya yang amat tinggi.
c.      Sangat lambat dalam belajar, yaitu keadaan murid yang memiliki bakat akademik yang kurang memadai dan perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran khusus.
d.     Kurang motivasi belajar, yaitu keadaan murid yang kurang bersemangat dalam belajar, mereka seolah-olah tampak jera dan malas.
e.      Bersikap dan kebiasaan buruk dalam belajar, yaitu kondisi murid yang kegiatannya atau perbuatan belajarnya sehari-hari antagonistik dengan seharusnya, seperti suka menunda-nunda tugas, mengulur-ulur waktu, membenci guru, tidak mau bertanya untuk hal-hal yang tidak diketahui dan sebagainya.
f.       Sering tidak masuk sekolah, yaitu murid-murid yang sering tidak hadir atau menderita sakit dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga kehilangan sebagian besar kegiatan belajarnya.
Bila dikaitkan dengan tugas perkembangan, maka masalah-masalah di atas berkaitan dengan tugas perkembangan nomer 4 (Mengembangkan keterampilan intelektual).

4.      Karier
Masalah karier yang sering dialami anak usia SMP adalah kesulitan memilih sekolah lanjutan. Biasanya mereka belum matang dalam menentukan pilihan. Banyak dari mereka yang mengikuti pilihan teman-temannya dengan alasan tidak percaya diri ataupun tidak mau berbeda sekolah dengan teman dekatnya. Jika memutuskan suatu masalah yang tidak dilandasi oleh rasa percaya diri hasilnyapun tidak akan memuaskan. Seorang siswa harus mengetahui bakat yang dimilikinya sehingga ia bisa menentukan karirnya dengan tepat.
Siswa setelah lulus dari SMP sudah dihadapkan pada pilihan untuk masuk ke jenjang SMA atau SMK yang mengarahkan pada bidang tertentu. Jika terjadi salah pilih jurusan maka akibatnya fatal. Pada beberapa penelitian diketahui bahwa pilihan yang dibuat siswa SMP dan terutama sekali pada saat memilih jenjang pendidikan mempunyai hubungan yang sangat kuat atau memberikan dampak jangka panjang dalam perkembangan pendidikan dan karir di kemudian hari.
Bisa dikatakan bahwa langkah atau pilihan awal pada jenjang SMP memberikan kontribusi besar dalam perjalanan pendidikan dan pekerjaan individu nantinya. Apalagi dengan perkembangan jaman yang penuh dengan persaingan, maka mempersiapkan diri sejak dini bisa jadi salah satu solusi untuk menciptakan sumber daya manusia yang kompetitif.
Bila dikaitkan dengan tugas perkembangan, maka masalah-masalah di atas berkaitan dengan tugas perkembangan nomer 9 (Memiliki wawasan persiapan karir).
5.      Kekeluargaan
Sering kali terjadi konflik antara anak usia SMP sebagai remaja awal dengan kedua orang tuanya. Hal ini disebabkan karena perbedaan pendapat di antara anak dengan orang tua. Remaja awal biasanya sudah merasa bahwa dirinya sudah cukup besar, sehingga tidak mau diatur-atur oleh orang tua lagi. Sebaliknya, orang tua justru menganggap anak di usia remaja sangat rentan terhadao hal-hal yang bersifat negatif, sehingga tidak jarang mereka justru memberi perlindungan yang lebih terhadap anaknya yang memasuki usia remaja.
Selain itu, remaja juga cenderung agak menjauh atau menjaga jarak dengan orang tuanya. Mereka merasa malu apabila bepergian dengan keluarganya sendiri. Mereka lebih senang berkumpul dengan teman-teman sebayanya daripada dengan keluarganya. Hal ini dapat mengakibatkan renggangnya hubungan keluarga, terutama antara orang tua dengan anaknya yang menginjak usia remaja.
Bila dikaitkan dengan tugas perkembangan, maka masalah-masalah di atas berkaitan dengan tugas perkembangan nomor 3 (Mencapai kemandirian emosional).

6.      Keberagamaan
Remaja sering kali lupa bahwa dirinya termasuk umat beragama karena terlalu berkonsentrasi dengan kesenangan sesaat dalam mengisi masa-masa remaja tanpa didasari dan diimbangi sikap dan kebiasaan beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini menyebabkan remaja lalai dari kewajiban agamanya. Selain itu, remaja juga mudah terbawa arus negatif dari lingkungan di sekitarnya. Remaja mudah tergoda untuk melakukan hal-hal negatif yang merupakan larangan dari ajaran agama yang dianutnya.
Bila dikaitkan dengan tugas perkembangan, maka masalah-masalah di atas berkaitan dengan tugas perkembangan nomer 1 (Memiliki sikap dan perilaku beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar